Ada
yang kau ucap selamat malam, tapi bukan pada telinga ini. Ada yang kau rindu
hari ini, tapi bukan untuk hati ini. Ada yang kau genggam setiap hari, tapi
bukan untuk tangan ini. Gejolak raga ini ku tanyakan pada mu, adakah yang kau
damba untuk kau pilih selain aku? Kau menjawab “ada” namun tidak untukku. Aku
pergi untukmu. Bahagiaku ketika bersamamu ternyata tak selamanya bahagia pada
dirimu.
Aku mendampingimu disaat engaku
dengan susahnya. Menarik simpul senyum pun kau bahkan tak kuasa. Namun lihatlah
aku, menjagamu dengan sepenuh – penuhnya hati. Membawamu ke jalan dimana kau
tak akan merasakan sakit lagi. Tetapi kamu hari ini sudah kelihatan membaik.
Aku ikut bahagia dengan keadaanmu yang pulih dari duka. Kian hari setelah
kepulihanmu, kau berlari meninggalkan aku yang seakan kau anggap tak pernah
ada. Aku rindu saat kau sedang terluka. Aku rindu melihatmu yang tak berdaya.
Karena pada saat itu kau menggapku ada, jauh lebih berharga ketimbang sekarang
yang bahagia dengan orang yang berbeda. Ku rawat sayap – sayap patahmu yang
terluka dan kini kau terbang meninggalkanku
dengan gagahnya.
Ada yang hari ini sedang kembali
memaafkan. Menelan sendiri pahit kekesalan. Yang tak berani marah karena
hatinya sudah terlanjur lelah.
Yang dulu selalu aku utamakan.
Yang sekarang pergi tanpa meninggalkan pesan.
Yang menyakitkan dari melepaskanmu, kesadaran bahwa setiap
langkahku hari ini adalah satu langkah yang membuatku jauh darimu.
Kau hanya pembunuh waktu.
Aku tak
ingin terlalu menyalahkanmu. Mungkin ini adalah akibat aku yang terlalu
memperhatikanmu. Yang setiap waktu selalu hadir direlung sanubarimu. Atau
mungkin karena kamu yang dulu selalu memberikan perhatian untukku? Aku ingat
malam itu. Romantis sekali. Dengan sebuah pesan yang mengatakan “kamu hanya untukku”.
Hati ini teramat bahagia kala itu. Mendapatkan cinta yang selama ini didamba.
Namun saat aku terbang karnamu, kau lupakan kata indahmu itu. . Aku dibohongi.
Tapi bukan olehnya, melainkan diriku sendiri.
Aku kini sadar. Aku hanya menjadi
pengobat luka dari sekian banyak obat yang kau telan. Jika memang aku kau
jadikan tempat sementara, mungkin jika
kehilangan aku pun tak terasa. Selamat bahagia dan selamat atas kembalinya
senyum riang. Kau mulai belajar mencintai yang baru. Dan aku mulai belajar melupakan
cinta yang lama.
Selamat melangkah dan tersenyum
dengan perasaan yang baru. Aku titipkan kisah kecil tentang kita, kisah pertama
saat kita pertama jumpa, kisah pertama saat kita saling menyapa, kisah pertama saat
kita saling menggenggam dengan erat rasa. Aku tak tau yang baru kini lebih baik
dariku atau tidak. Yang pasti kuselipkan doa untukmu agar kau berbahagia. Belai
lembut dirinya seperti kau membelai lembut aku yang dulu.
Aku sadar, aku jauh dari sempurna. Maaf
aku hanya bisa mampu membuatmu bangkit dari keterpurukanmu. Selamat. Kamu telah
sukses akan usahamu. Aku turut bangga karna aku telah menjadi bagian dari
menuju suksesmu. Aku juga berterima kasih kau yang dulu hanya seekor ulat kecil
yang menjijikan telah bersedia mampir di ranting pohonku. Ranting pohon yang
membantumu bergelantung untuk menjalani metamorfosismu. Senang rasanya. Kamu
bisa terbang dengan anganmu. Senang melihatmu bisa menjadi apa yang orang tuamu
inginkan selama ini. Untuk dia? Aku pikir, dialah sekarang yang bisa merasakan
manisnya suksesmu.
Aku
bersajak untukmu. Karena tulisanku adalah satu – satunya media ketika aku tak
sanggup lagi bersamamu.
Komentar
Posting Komentar