Langsung ke konten utama

Melangkahlah Ini Sudah Saatnya



                Ada yang kau ucap selamat malam, tapi bukan pada telinga ini. Ada yang kau rindu hari ini, tapi bukan untuk hati ini. Ada yang kau genggam setiap hari, tapi bukan untuk tangan ini. Gejolak raga ini ku tanyakan pada mu, adakah yang kau damba untuk kau pilih selain aku? Kau menjawab “ada” namun tidak untukku. Aku pergi untukmu. Bahagiaku ketika bersamamu ternyata tak selamanya bahagia pada dirimu.
Aku mendampingimu disaat engaku dengan susahnya. Menarik simpul senyum pun kau bahkan tak kuasa. Namun lihatlah aku, menjagamu dengan sepenuh – penuhnya hati. Membawamu ke jalan dimana kau tak akan merasakan sakit lagi. Tetapi kamu hari ini sudah kelihatan membaik. Aku ikut bahagia dengan keadaanmu yang pulih dari duka. Kian hari setelah kepulihanmu, kau berlari meninggalkan aku yang seakan kau anggap tak pernah ada. Aku rindu saat kau sedang terluka. Aku rindu melihatmu yang tak berdaya. Karena pada saat itu kau menggapku ada, jauh lebih berharga ketimbang sekarang yang bahagia dengan orang yang berbeda. Ku rawat sayap – sayap patahmu yang terluka dan kini kau terbang meninggalkanku  dengan gagahnya.
Ada yang hari ini sedang kembali memaafkan. Menelan sendiri pahit kekesalan. Yang tak berani marah karena hatinya sudah terlanjur lelah.
Yang dulu selalu aku utamakan.
Yang sekarang pergi tanpa meninggalkan pesan.
Yang menyakitkan dari melepaskanmu, kesadaran bahwa setiap langkahku hari ini adalah satu langkah yang membuatku jauh darimu.
Kau hanya pembunuh waktu.
                Aku tak ingin terlalu menyalahkanmu. Mungkin ini adalah akibat aku yang terlalu memperhatikanmu. Yang setiap waktu selalu hadir direlung sanubarimu. Atau mungkin karena kamu yang dulu selalu memberikan perhatian untukku? Aku ingat malam itu. Romantis sekali. Dengan sebuah pesan yang mengatakan “kamu hanya untukku”. Hati ini teramat bahagia kala itu. Mendapatkan cinta yang selama ini didamba. Namun saat aku terbang karnamu, kau lupakan kata indahmu itu. . Aku dibohongi. Tapi bukan olehnya, melainkan diriku sendiri.
Aku kini sadar. Aku hanya menjadi pengobat luka dari sekian banyak obat yang kau telan. Jika memang aku kau jadikan tempat  sementara, mungkin jika kehilangan aku pun tak terasa. Selamat bahagia dan selamat atas kembalinya senyum riang. Kau mulai belajar mencintai yang baru. Dan aku mulai belajar melupakan cinta yang lama.
Selamat melangkah dan tersenyum dengan perasaan yang baru. Aku titipkan kisah kecil tentang kita, kisah pertama saat kita pertama jumpa, kisah pertama saat kita saling menyapa, kisah pertama saat kita saling menggenggam dengan erat rasa. Aku tak tau yang baru kini lebih baik dariku atau tidak. Yang pasti kuselipkan doa untukmu agar kau berbahagia. Belai lembut dirinya seperti kau membelai lembut aku yang dulu.
Aku sadar, aku jauh dari sempurna. Maaf aku hanya bisa mampu membuatmu bangkit dari keterpurukanmu. Selamat. Kamu telah sukses akan usahamu. Aku turut bangga karna aku telah menjadi bagian dari menuju suksesmu. Aku juga berterima kasih kau yang dulu hanya seekor ulat kecil yang menjijikan telah bersedia mampir di ranting pohonku. Ranting pohon yang membantumu bergelantung untuk menjalani metamorfosismu. Senang rasanya. Kamu bisa terbang dengan anganmu. Senang melihatmu bisa menjadi apa yang orang tuamu inginkan selama ini. Untuk dia? Aku pikir, dialah sekarang yang bisa merasakan manisnya suksesmu.
                Aku bersajak untukmu. Karena tulisanku adalah satu – satunya media ketika aku tak sanggup lagi bersamamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak Saat Itu

                Sebab segala sesuatu yang telah datang, pasti berakhir dengan kehilangan. Skenario Tuhan menciptakan indahnya arti sebuah pertemuan dan tangisan. Ku renungkan betapa salutnya dengan penikmat kopi yang menikmati kepahitan tanpa sebulir gula. Betapa hebatnya orang – orang yang dengan busuknya tertawa menangisi luka. Membungkus pilunya sendu dengan doa. Doa yang terpanjatkan ditengah sunyinya malam. Berpikir gila menghentikan malam, membunuh cahaya agar orang menghargai bagaimana nikmat sepi dan kegelapan.                 Pembohong besar dengan bahagia itu sederhana. Menemukan arti bahagia tak semudah membalikkan telapak tangan. Bahagia yang sesungguhnya tak akan pergi meninggalkan luka. Tak akan pergi dengan beribu kenangan. Tak akan pergi memberikan rasa pilu teramat dalam. Kejam! Sungguh kejam! Senja yang kini tengge...

Sebab denganmu adalah waktu.

                Hambar. Memang ada sebuah rasa, tapi tidak bisa dirasa. Seperti halnya dengan kita. Kita ada, tapi tidak dianggap ada. Kau semakin lambat. Lambat dalam segala hal. Semua yang ku sukai tiba – tiba kini kau anggap biasa. Aku juga sangat menyukai pertemuan. Tentu itu membuatku sangat bahagia. Namun kali ini, aku telah terbiasa dengan perasaan yang kau anggap biasa saja. Tentu aku sangat paham sekali, kau tipekal orang yang tak mau ambil pusing. Tapi ada kalanya kau mampu menghargai perasaan bahagia atas kehadiranmu dari orang yang selalu merindukanmu. Semenjak kala itu aku tau beberapa hal yang sangat berharga untuk aku dapati saat ini. Mungkin sekarang aku telah bisa menaklukan jarak antara kita. Ya. Memang aku sadari dengan sepenuh hati kita memang tak selamanya tetap harus berdua bukan? Ada saatnya kita sibuk dengan dunia kita sendiri. Ada saatnya kita meluangkan waktu berdua dengan senyum ...

Stop Judge Pecandu Narkoba!

Kali ini saya akan menyalurkan pola pikir saya mengenai permasalahan yang cukup besar di Indonesia. Tentu, narkoba sudah tidak asing lagi di telinga. Maraknya pengguna narkoba di Indonesia justru di dominasi oleh remaja dan anak2. Suatu hari dosen saya menceritakan pengalamannya saat masih menjadi penguji praktek sholat di sebuah sekolah menengah. Saat praktek berwudhu, beliau menemui seorang siswi yang seluruh lengannya terdapat luka sayatan yang tak terhitung banyaknya. Ternyata siswi tersebut merupakan pecandu narkoba akut. Dia mengaku telah mengkonsumsi barang haram tersebut saat memasuki kelas 4 SD. Sontak saat mendengar cerita dari dosen saya, saya terkejut. Lha bagaimana baru kelas 4 SD sudah kenal barang haram itu? Lalu bagaimana orang tuanya? Kasus yang dialami siswi tersebut membuat saya penasaran dan disini saya akan menumpahkan segala pola pikir saya mengenai kasus ini. Ternyata siswi tersebut 'terperangkap' dalam lingkungan yang memang narkoba itu su...