Langsung ke konten utama

Sejak Saat Itu



                Sebab segala sesuatu yang telah datang, pasti berakhir dengan kehilangan. Skenario Tuhan menciptakan indahnya arti sebuah pertemuan dan tangisan. Ku renungkan betapa salutnya dengan penikmat kopi yang menikmati kepahitan tanpa sebulir gula. Betapa hebatnya orang – orang yang dengan busuknya tertawa menangisi luka. Membungkus pilunya sendu dengan doa. Doa yang terpanjatkan ditengah sunyinya malam. Berpikir gila menghentikan malam, membunuh cahaya agar orang menghargai bagaimana nikmat sepi dan kegelapan.
                Pembohong besar dengan bahagia itu sederhana. Menemukan arti bahagia tak semudah membalikkan telapak tangan. Bahagia yang sesungguhnya tak akan pergi meninggalkan luka. Tak akan pergi dengan beribu kenangan. Tak akan pergi memberikan rasa pilu teramat dalam. Kejam! Sungguh kejam! Senja yang kini tenggelam dengan perlahan juga menelan kenangan yang begitu pelan. Senja yang mengantarkan kepada gelapnya malam kini telah berada dihadapan. Seperti halnya dirimu dengan beribu tawa tanpa merasakan pedihnya luka. Dirimu yang kini menari indah tanpa pernah tau menunggu kabar dengan resah.
                Semua memang butuh waktu. Waktu yang mampu menghilangkan segala rindu. Waktu yang menggerus senja saat dengan dirimu. Namun kini aku bersama waktu dan juga senja yang sama. Hanya saja aku kini bukan lagi denganmu dengan perasaan sama. Melainkan dengan sendu yang kau tinggalkan saat kita bahagia.
                Bagiku, ingatan adalah mesin waktu. Menyapa, mengingat luka, bertemu dengan kecewa karena kita. Perpisahan ini menjadikan diri ini tumbuh dewasa. Dengan pembukaan yang manis, lalu hambar, dan kemudian pahit. Semakin aku mengingatmu, aku semakin tahu garis Tuhan yang tercipta untukku. Seonggok kayu dan api cemburu, mengisak tangis yang menjadi abu. Sebab kini aku ingin kau hilang dariku, agar hanya aku saja yang terbakar oleh pilu.
                Untukmu masa lalu, terimakasih kau mengajarkan aku tentang luka nan anggun. Aku berpesan tetaplah tertegun pada tempat itu, karna pada saat aku telah menemukan memori yang baru masih ada tempat untuk merasakan nikmat saling mengasihi.
                Sakit ini sudah sepantasnya membiarkan aku melangkah, sudah saatnya berpindah. Jika hati ini benar tempat tinggal terbaik bagi perasaan, mungkin kau salah. Ia telah remuk berkeping – keping. Tanpa raga ia bergentayangan menuju pagi, tangan yang selalu menasbihkan sang khalik untuk menata hati ini kembali. Bukan kehilangan yang kita sesali, tapi begitu cepat kita terlupakan itulah yang kita tangisi.
Tepat malam ini suasana didadamba bagi pemuja duka. Gerimis membalut tangis yang tertutup oleh senyuman manis. Setabah apapun kamu, pertemuan adalah gerbang perpisahan. Terima saja. Petir menyambar begitu keras. Sama seperti saat aku mengetahui fakta tentang kasih hilang telah terkikis.
Seperti inilah aku.
Menertawai masa lalu.
Mengharap yang telah lalu.
           Denganmu aku telah kehilangan waktuku. Denganmu aku kehilangan makna apa itu tawa. Denganmu dan selalu denganmu. Tak sudi aku ungkit kenangan pahit saat itu. Sepahit kopi tanpa gula seperti cinta tanpa luka. Sadar dengan tempatku kini yang telah jauh tak bisa mengejarmu. Kau yang telah berlari dengan jauh tak bisa kupaksakan raga ini untuk selalu tetap mengejarmu. Sejatinya aku ingin kau bukan didepanku atau bahkan dibelakangku. Melainkan disampingku. Karna aku bukan untuk kau giring, tapi aku hadir untuk seiring.
                Aku menulis ini karna aku sudah tak mampu lagi bagaimana caraku agar tetap bisa berbicara denganmu. Ini cara terakhirku untuk bagaimana aku bertahan. Jika kau masih tetap berlari tanpa menoleh kebelakang. Aku akan melupakan bagaimana arti berjuang tanpa alasan.
                


                                                                                                                                                 17/10/2017

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebab denganmu adalah waktu.

                Hambar. Memang ada sebuah rasa, tapi tidak bisa dirasa. Seperti halnya dengan kita. Kita ada, tapi tidak dianggap ada. Kau semakin lambat. Lambat dalam segala hal. Semua yang ku sukai tiba – tiba kini kau anggap biasa. Aku juga sangat menyukai pertemuan. Tentu itu membuatku sangat bahagia. Namun kali ini, aku telah terbiasa dengan perasaan yang kau anggap biasa saja. Tentu aku sangat paham sekali, kau tipekal orang yang tak mau ambil pusing. Tapi ada kalanya kau mampu menghargai perasaan bahagia atas kehadiranmu dari orang yang selalu merindukanmu. Semenjak kala itu aku tau beberapa hal yang sangat berharga untuk aku dapati saat ini. Mungkin sekarang aku telah bisa menaklukan jarak antara kita. Ya. Memang aku sadari dengan sepenuh hati kita memang tak selamanya tetap harus berdua bukan? Ada saatnya kita sibuk dengan dunia kita sendiri. Ada saatnya kita meluangkan waktu berdua dengan senyum ...

Stop Judge Pecandu Narkoba!

Kali ini saya akan menyalurkan pola pikir saya mengenai permasalahan yang cukup besar di Indonesia. Tentu, narkoba sudah tidak asing lagi di telinga. Maraknya pengguna narkoba di Indonesia justru di dominasi oleh remaja dan anak2. Suatu hari dosen saya menceritakan pengalamannya saat masih menjadi penguji praktek sholat di sebuah sekolah menengah. Saat praktek berwudhu, beliau menemui seorang siswi yang seluruh lengannya terdapat luka sayatan yang tak terhitung banyaknya. Ternyata siswi tersebut merupakan pecandu narkoba akut. Dia mengaku telah mengkonsumsi barang haram tersebut saat memasuki kelas 4 SD. Sontak saat mendengar cerita dari dosen saya, saya terkejut. Lha bagaimana baru kelas 4 SD sudah kenal barang haram itu? Lalu bagaimana orang tuanya? Kasus yang dialami siswi tersebut membuat saya penasaran dan disini saya akan menumpahkan segala pola pikir saya mengenai kasus ini. Ternyata siswi tersebut 'terperangkap' dalam lingkungan yang memang narkoba itu su...